Budaya Instan

Ada sebuah tulisan, yang sumber nya saya lupa dari mana, maaf jika tidak disebutkan. Dan sedikit saya tambahkan juga tulisan saya sendiri.

——————–

Apakah Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang malas? Pertanyaan ini cenderung menuduh dan meng generalisasikan sesuatu masyarakat sesuai dengan apa yang dlilihat pada satu tempat dan pada satu waktu saja.

Coba lihat di waktu jam kerja, banyak pegawai yang hanya duduk-duduk saja mengobrol dengan teman sebelahnya. Hal seperti ini berlangsung setiap saat dari pagi hingga sore waktu pulang tiba. Kita yang dalam bekerja pun tidak maksimal. Kerja hanya setengah-setengah yang penting selesai. Etos kerja yang sangat rendah. Datang terlambat, istirahat diperpanjang, pulang duluan. Di kantor pun tak tahu apa yang dikerjakan. Bekerja dengan sangat lambat bagai kura-kura. Bekerja segan, nganggur pun tak mau. Banyak dari kita yang suka meremehkan pekerjaan kita, dan meremehkan masalah yang ada.Terlambat menjadi nama julukan yang telah meresap ke sendi.
Kerja bagi kita hanya berbatas pada uang bukan ambisi atau citacita.Tak ada kah semangat dari dalam diri kita untuk bekerja sepenuh hati mengorbankan, jiwa, raga, harta, dan waktu demi pekerjan kita?

Hukum pun di negara ini dianggap sebagai sebuah formalitas dan bukan kesepakatan bersama demi kebaikan bersama. Kita memakai helm karena takut kena tilang. Menerobos lampu merah pun tak apa asal jalanan sepi. Polisi pun menilang berdasar tanggal di kalender. Tata tertib dianggap sebagai banyolan. Hukum ada untuk dilanggar menjadi slogan dimana-mana bahkan di kalangan aparat hukum itu sendiri.

Masyarakat di negara Ini ingin seperti Orang Amerika dan Eropa katanya, yang menjadikan kerja sebagai makanan sehari-hari, individualistis,mereka bekerja keras, dari pagi hingga malam penuh totalitas. Lalu siapa yang mengurus anak-anak mereka jika pagi hingga malam mereka bekerja? Lalu untuk apa suami istri tinggal serumah jika tidak pernah bertemu? Lalu untuk apa keluarga?

Mereka membangun rumah-rumah indah untuk pembantu mereka, Melahirkan putra-putri mereka untuk diasuh oleh sekolah. Itu biasa saja sebenarnya, tapi apakah kita memang ingin demikian?

“Negara ini memang bobrok” begitu teriak Customer saya melalui Blackberry Messenger nya belum lama, saya menyambung percakapan kami yang seru soal bangsa ini.

“Lihat saja, para pemimpinnya korup, tergila-gila pada jabatan dan kekuasaan dan bahkan mengemis-ngemis pada negara Barat untuk mendapatkan hutang dan pinjaman yang bunga nya dibayar oleh anak cucu kita”

Sering sekali saya mendengar orang-orang yang mencemooh apa yang dilakukan pemerintah. Pemerintah begini lah, pemerintah begitu lah. Baiklah memang saya akui bahwa para pemegang kekuasaan Negara ini di tingkat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif belum mencapai tingkat kinerja yang ideal. Akan tetapi apakah semua keburukan yang terjadi di negara  ini adalah tanggung jawab dan akibat perbuatan mereka? Sadarkah kita sebagai rakyat terkadang juga melakukan kesalahan dan perbuatan yang sama.

Kadang kita menunjuk Negara lain sebagai contoh, Lihat Jepang, begitu maju nya mereka, apa penyebabnya ? ternyata masyarakatnya suka bekerja keras, hormat satu sama lain, hormat terhadap pemimpinnya,  Tanggung jawab untuk bekerja keras dan mengubah segala sesuatunya terletak pada diri kita sendiri, bukan mengharapkan bantuan pihak lain (apalagi pemerintah kita yang semakin lama berjalan sendirian meninggalkan rakyatnya yang mati kelaparan, bunuh membunuh, saling sikut, emosian dll)

Jadi bagaimana membuat bangsa ini maju? Semuanya dimulai dari KITA dan bukan MEREKA. Ketika kita kagum pada Microsoft buatan Amerika maka sebenarnya siapa yang kita kagumi? Presiden Amerika atau Bill Gates?? Lalu siapakah Bill Gates? Apakah dia Menteri Teknologi? Bukan, Bill Gates adalah warga Negara biasa yang membuat negaranya bangga. Kebanggaan yang dikumpulkan dari tiap individu itulah yang membuat Negara itu tampak besar.

Pemimpin negara ini lebih sering berdebat tentang apa yang mereka perlukan, apa yang akan mereka lakukan esok, apa yang akan mereka makan, apa yang baik buat mereka dan lain sebagainya, tidak mereka sadari Rakyatnya sudah mati kelaparan, rakyatnya kebingungan.

Sibuk menyalahkan Ujian Akhir Nasional (UAN) karena tidak sama sekali meningkatkan kualitas pendidikan nasional katanya, jangan lupa tanpa UAN siswa tidak akan mau belajar. Pendidikan kita hancur bukan karena UAN, bukan karena Pak Menteri tidak becus menangani UAN, atau kurikulum yang tidak cocok, tapi Hancur karena kita sendiri yang tidak bisa melaksanakan sistem yang ada. Sistem yang sederhana saja terkadang kita tidak mampu, malah minta sistem yang lebih rumit, aneh kan?

Kebanyakan orang-orang di negeri ini ingin nya serba Instan, Mulai dari tontonan kami: sinetron instan, artis instan, politikus instan, pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu
yang dapat terwujud secara tiba-tiba itulah yang kami gemari. Tentu saja tidak heran jika artis dan politikus dadakan menjamur bak di musim hujan. Sekali lagi, ini negeri orang instan. Kalau kami tidak suka dengan pemimpin kami, tinggal gulingkan saja. Toh tak perlu susah-susah cari pengganti karena masih banyak pemimpin instan lainnya. Perilaku kami pun instan, coba lihat betapa kami suka dengan korupsi karena itu instan. Kekayaan instan tanpa perlu susah-susah bekerja sedikit demi sedikit, itu yang kami suka. Lihatlah bagaimana kami lebih suka memberi uang kepada mafia hukum
jalanan ketika kami melanggar aturan lalu lintas. Karena kami ingin menyelesaikan masalah ini dengan instan, tanpa perlu repot-repot.

Begitu pula kami dalam mengelola ekonomi dan Sumber Daya Alam negara ini. BUMN merugi? Jual saja jadikan Perseroan kepada Asing kalau perlu, siapa tahu jadi Untung, lalu negara dapat 1-5% dari keuntungan, bodohnya mereka. Kita punya banyak sumur minyak, berikan saja kontrak kepada asing juga, kita ambil Pajak nya, kita share sedikit minyaknya untuk konsumsi dalam negeri, sisanya biarlah diolah asing, nanti Gampaaang, kita impor lagi dari mereka setelah diolah lalu dijual ke Rakyat pakai harga Internasional, Beres kan?
Anggaran Negara defisit? Gampang! Naikkan saja pajak, naikkan harga Listrik, Air, BBM yang penting angka akhirnya kita nggak rugi.
Kurang ahli dalam mengelola keamanan? Pakai saja jasa swasta. Bahkan negara ini tak lebih dari sebuah perusahaan besar yang segalanya diukur seberapa besar keuntungan yang didapat, tak peduli masyarakatnya berteriak mengkritik.
Lihatlah bagaimana kami belajar. Kami menjadi pintar hanya dengan semalam. Dan lusa, kami sudah lupa. Benar-benar instan pula lah kepandaian kami ini. Tidak heran juga bimbingan belajar dan les privat menjadi populer di dunia pendidikan. Meski mereka hanya mengajari kami bagaimana mengerjakan soal dan bukannnya mengajari kami ilmunya, tapi kami anggap itu jauh lebih penting dan lebih berguna.
Ketika rumah dan harta kami hancur karena musibah, maka yang kami lakukan hanyalah menunggu bantuan instan dari pemerintah. Dan berharap bantuan tersebut jika direbus dengan air mendidih
akan segera menjadi rumah dan harta benda baru bagi kami. Memang kita terkenal dengan budaya instan dan cepat bosan.
Jika anda tidak percaya silahkan tanyakan hal ini pada produsen barang-barang semisal handphone, sepeda motor, dsb. Bagaimana mereka menyiasati pasar Indonesia dengan sering melunncurkan varian atau inovasi baru dalam produk mereka dan orang-orang langsung antri membeli produk baru mereka, harga berapapun pasti laku…hebatnya negara ini.

Di dunia olahraga juga lihat saja betapa senangnya petinggi PSSI melakukan naturalisasi pemain, iya kalau yang dinaturalisasi pemain yang memang berkualitas,bermain di klub divisi utama…ini malah yang dipilih yang “asal bule” atau minimal punya nama ke bulean. padahal banyak juga anak muda kita yang berlatih dan bermain di klub eropa yang masih asli pribumi, atau lihat talenta-talenta yang bertebaran diantara 230juta rakyat Republik ini.

Dalam dunia pendidikan kita juga mengenal budaya dimana belajar dalam satu malam. Seringkali kita belajar hanya pada saat kita menghadapi ujian. Dan kita berpikir, dengan belajar semalam sebelum ujian dan mendapatkan nilai yang yang bagus maka selesailah sudah urusan kita.

………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: