Tulis di pasir, Pahat di batu

Juli 2004, datang sebuah paket yang dialamatkan kepada saya. Saya lihat siapa pengirimnya, ternyata seorang pelanggan yang dari jauh. Beliau memberikan saya sebuah Handphone Motorola C155 berwarna Hitam.
Sebenarnya saya tidak membutuhkan handphone ini, karena saya sendiri saat itu memiliki 2 buah Handphone lain.
Segera saya mengucapkan terima kasih melalui telepon kepada yang bersangkutan.

Pak Santoso Soeharto, begitu namanya, saya memanggilnya sesuai dengan para rekannya memanggil beliau “Pak San”. Orang yang sederhana, tidak sombong juga, sedikit ramping meskipun banyak sekali makannya.
Kesan saya terhadap beliau adalah, beliau sangat sering berterima kasih pada siapapun, termasuk kepada saya. Padahal saat itu saya belum satu tahun membantunya memasarkan produk di Surabaya.

Setiap Saya mengunjungi kota Surabaya, saya selalu menelepon pak Santoso dan beliau selalu menjemput saya di Bandara dan mengajak saya berkeliling kota Surabaya.
Teringat saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya seorang diri, meskipun saya punya keluarga di Tanjung Perak, namun saya sama sekali tidak pernah kesana. Pak Santoso menunggu di pintu kedatangan sambil membawa papan nama bertuliskan nama saya disana. Setelah bersalaman, beliau mengajak saya untuk naik mobilnya dan segera meluncur ke Pertamina Jagir Wonokromo.

Pada saat anak saya lahir pun, Pak Santoso yang mengucapkan selamat, saya ingat tanggal 20 Januari 2006 jam 11 malam, beliau masih sempat SMS ke saya. Begitupun pada saat saya sangat membutuhkan uang, beliau yang meminjamkan kepada saya tanpa rasa curiga, dan Alhamdulillah sebenarnya uang tersebut tidak pernah terpakai, dan saya langsung mengembalikan 3 hari setelah saya terima.

Saya sendiri belum tahu bagaimana membalas kebaikan beliau, hingga pada saat kami menjalankan sebuah project bersama, dan pada saat beliau seharusnya mendapatkan fee dari project tersebut saya baru merasakan inilah saat saya membantunya maksimal.

Pun, pada saat saya mengucap kata perpisahan kepada beliau, saya masih teringat bahwa saya masih punya hutang, dimana perusahaan saya bekerja seharusnya membayar sejumlah fee kepada beliau namun pembayaran tersebut “agak” terlambat karena alasannya bermacam-macam.

Hingga sekarang, saya belum tahu apakah fee tersebut sudah terealisasi atau belum, karena saya keburu meninggalkan perusahaan saya tersebut.

Pagi ini saya kembali membuka-buka lemari lama saya dan menemukan Box berisi Handphone yang pernah diberikan pak Santoso kepada saya. Ada sebuah tulisan di dalamnya :

“Jika memberi sesuatu, tulislah di pasir agar mudah terhapus, tapi jika menerima sesuatu, pahatlah dibatu, agar tidak mudah dilupakan”

—- to all my previous customers —-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s