Kenapa BBM subsidi harus “naik”?

Ini fakta secara hitung-hitungan ekonomis

 

Produksi Crude Oil RI kian turun.Produksi Indonesia hanya 840.000 barrel per day (bpd). Sementara konsumsi domestik hampir 1.4 juta BPD.

Dari produksi 840.000 bpd tsb, ada hak atau bagian kontraktor, asumsikan rata2 20%. Hak RI = 672.000 BPD

Artinya RI harus impor atau beli kekurangan BBM (crude oil & product) sebanyak 728.000 bpd. Setahun = 265,720 juta barrel

 

Berapa harga produksi product oil (gasoline, diesel dst) ? Murah. Hanya 0.30 sd 0.60 USD per gallon (3.75 liter)

Artinya, jika crude oil RI sendiri yg diolah, maka tanpa masukan harga BB nya, harga bensin dan solar = USD 0.60 : 3.75 = Rp. 1600 /ltr

Rp. 1.600 ini adalah biaya produksi minus biaya bahan baku (crude oil) + transportasi + margin SPBU dll + pajak = Rp. 2.500-3000/ltr

Asumsi seperti tadi itulah yg selalu JADI DASAR harga BBM oleh Orang-orang yang tidak menginginkan Harga BBM di Indonesia naik. Namun,jika RI seperti Negara2 Arab atau Venezuela yg produksi crude oilnya melimpah,asumsi itu boleh boleh saja.

 

Tapi faktanya RI ini IMPORTIR minyak. Tidak tanggung2, 266 juta barrel per tahun !! Artinya, biaya produksi included biaya bahan baku

Artinya, harga BBM RI terpaksa mengikuti harga pasar dunia.  

Subsidi BBM SANGAT beratkan keuangan negara. Jika tdk dikurangi, akhir 2013, total subsidi BBM & energi sejak 09 tembus 800 Trilyun dan akhirnya pemerintah terpaksa UTANG utk tutupi subsidi BBM yg menjebol APBN. Selamat..utang RI sdh Rp. 1988.87 Triliun per feb 2013.

 

Dinegara ini, BBM yang di subsidi pun bukan banyak BBM nya saja yang di subsidi, bahkan pemerintah harus melakukan subsidi juga untuk ongkos angkutnya. Negara ini negara kepulauan, dan miskin infrastruktur yang otomatis membuat biaya transportasi menjadi sangat mahal.

Indonesia pun terpaksa melakukan Impor minyak dari negara lain, lagipula Indonesia bukan lagi anggota OPEC sejak 2008. Yang artinya kita bukan lagi negara kaya pengekspor minyak, namun perilaku kita masih seolah olah Raja Minyak, padahal sebaliknya.

 

Kita harus mendidik Rakyat Bangsa ini agar tahu bahwa Minyak sudah menjadi Barang Mewah, harga Internasional makin mahal, kita mengimpor juga semakin besar tiap tahun, herannya meski harga Internasional makin mahal, kita pun serempak menutup mata, Pokoknya harga di dalam negeri mesti tetap MURAH, tidak peduli BBM dipakai untuk kebut-kebutan, mabuk-mabukan, pacaran, pesta dan lain sebagainya. Pikiran bahwa negara kita itu kaya minyak harus segera dibuang jauh, itu pikiran usang, kuno, obsolete kata orang bule. Produsen Otomotif pun masih sangat senang memproduksi dan menjual kendaraan-kendaraan baru dengan konsumsi BBM yang boros atau ber basis Fossil Fuel sementara kendaraan berbasis Listrik dan Gas atau bahan lain terabaikan, bahkan pemerintah seolah juga tutup mata, pajak mobil HYBRID atau Listrik tidak juga ditekan, Mobil listrik kreasi anak bangsa pun di biarkan mati sendiri tidak ada yang mendukung… yaa cukuplah Mahasiswa itu meng-kompetisikan mobil listrik buatannya di ajang internasional.
Diseluruh dunia, bahkan di negara tetangga kita Malaysia dan Thailand, sibuk membuat rakyatnya tidak mabuk akan minyak fosil, mereka membuat riset penting tentang energi terbarukan, memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan agar mampu menabung energi masa depan dan rajin menjelajah dunia untuk mencari sumber-sumber energi lain.
Di Indonesia?
Para elit masih saja memanipulasi pikiran rakyatnya dengan impian seolah-olah kita ini kaya raya, punya segala-galanya, bahwa kita kaya minyak, produksi kita seolah olah mencukupi kebutuhan dalam negeri, jadi harga harus tetap MURAH, padahal selisih harga yang begitu besar membuat para penyelundup BBM dan juga para Koruptor di negeri ini makin pesta pora sementara Rakyatnya tetap hidup dalam mimpi. Minyak memang harus mahal, namun Minyak mahal bukan untuk menindas orang miskin, namun lebih untuk mendidik agar masyarakat benar-benar menggunakan BBM untuk hal yang bermanfaat, bukan lagi untuk sekedar foya-foya, pamer atau kegiatan Hedonis lainnya. Masyarakat harus sadar, bahwa Minyak sudah menjadi barang mewah, harus sadar bahwa kita hanya akan melakukan sesuatu dengan asas manfaat bukan sekedar ingin atau mau.
Harga Barang ikut naik?
Saya berpendapat, harga barang memang akan mencapai titik idealnya, tapi jika pemerintah bersikap ragu,malah akan memperparah keadaan. Harga-harga akan naik terus sebelum BBM naik dan sesudahnya. Mungkin saja saat harga sudah tidak terjangkau, otomatis harga akan turun, menyesuaikan diri dengan daya serap pasar yang ada, atau mereka akan ditinggalkan pembelinya.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s