Wirausaha atau jadi Karyawan

Mei 2012, adalah saat dimana saya memutuskan untuk keluar dari Zona Aman di Perusahaan saya saat itu, dimana saat itu saya sudah memiliki posisi yang aman, gaji yang lumayan (meskipun nggak cukup kalo mau punya apartemen,mobil mewah, ruko dst) dan fasilitas kendaraan kantor. Namun seperti kebanyakan karyawan lainnya, saya merasa tidak cukup kalau hanya mengharap gaji semata yang keluarnya Cuma sebulan sekali, uang makan dan transport yang setiap bulannya selalu dipotong sampai 60%, pekerjaan yang begitu menekan psikis dan fisik, bos yang sangat oke tapi anak buahnya yang nggak oke (banyak dialami karyawan dalam perusahaan), dan tentu saja lokasi kantor yang sebenarnya nggak jauh, Cuma macetnya itu ampun-ampunan.

Muncul keinginan terpendam untuk menjadi seorang Wiraswasta atau Wirausaha atau istilah kerennya pengusaha. Mungkin muncul pertanyaan “kenapa sih mau jadi pengusaha, padahal di kantor sudah enak?” Nah itu dia permasalahannya, yang enak kan yang punya perusahaan, mereka bisa meraih uang lebih banyak, dan bisa datang ke kantor kapan saja termasuk memecat atau mengganti karyawan yang tidak menguntungkan buat mereka, iya kan? Sampai kapanpun dalam mindset saya, jadi anak buah itu nggak pernah enak, karena pendapatannya sudah ditakar, kerja giat sama kerja malas-malasan dibayar sama per bulan, kadang kalau beruntung bisa naik gaji 20-30% per tahun, dan tentu saja bonus dan THR, ada lagi tunjangan macam-macam, tapi percayalah, kerja sendiri jauh lebih enak.

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencari keuntungan dan profit, sama dengan saya, barang yang dibeli dengan harga 100 perak misalnya, dijual lagi dengan harga 250 perak, mana bisa dibilang rugi?. Bertahun-tahun saya di cekoki doktrin bahwa perusahaan rugi, untung nya berkurang tanpa saya bisa analisa, ternyata setelah saya buka mata, o iya berarti selama ini yang namanya rugi sebenarnya nggak ada, makanya saat itu saya minta divisi sendiri di perusahaan saya yang lama, karena bosan juga kalau tiap tahun dibilang rugi, kok barang laku, dan terus menerus beli barang lagi.

Nah, ada juga yang bertanya saat itu, “Elu mau buka usaha sendiri, modalnya mana?, udah enak di kantor malah mau susah”. Yang bertanya itu teman saya sendiri, teman kantor pula. Memang saat saya keluar, saya tidak mendapat pesangon, boro-boro pesangon, satu hari setelah saya mengundurkan diri, semua nama saya di perusahaan itu dihapus, seolah-olah saya nggak pernah kerja disana, seketika wewenang saya dicopot, saya di non-job kan selama satu bulan ke depan, bedanya saya masih pakai mobil kantor saat itu, dan itulah keberuntungan, saya jalan kemana-mana ketemu teman lama, mencoba membangun jaringan baru, mencoba melakukan pendekatan dan lain sebagainya dan kantor pun tidak pernah bertanya kemana saya pergi.

Satu dua bulan saya keluar, kesulitan menghampiri, tabungan habis untuk hidup, bagaimana saya bisa memulai usaha kalau untuk hidup saja saya harus kembang kempis, ditambah istri saya melahirkan anak ke-3, operasi pula. Keberuntungan mulai ketika saya diajak kerja membangun tim marketing oleh seorang kawan, sayangnya kerjasama itu hanya berlangsung kurang dari setahun karena sang kawan ini ingin balik modal yang cepat, ingin untung lebih besar tapi nggak mau bersabar, kerjanya tiap hari hanya mentraktir para pejabat di sebuah BUMN ternama negeri ini, saya pikir ngapain tiap hari keluar duit banyak buat orang-orang yang nggak jelas, tapi hasilnya nol besar.Karena perbedaan pendapat ini saya memilih untuk hengkang. Dan Memulai usaha yang sebenarnya sejak April 2013.

Modalnya dari mana?

Saya tidak mengeluarkan modal sepeserpun, saya gunakan uang orang lain untuk memulai usaha. Mau bukti? Saat saya keluar dari perusahaan yang lama, saya minta kawan saya ini membeli barang dalam jumlah banyak, tentu saja pakai uangnya dan saya hanya menerima gaji yang nggak seberapa, namun selama 10 bulan saya bersama dia, saya membangun jaringan kecil penjualan dan menunjukkan pada mereka bahwa saya masih ada, dan masih “hidup”. Bulan ke 3 saat barang belum datang, saya mendapat order dari seorang customer yang mengaku “prihatin” dengan nasib saya, lalu memberikan sejumlah uang untuk dibelikan barang (Impor), herannya dia percaya banget sama saya, sementara perusahaan yang sudah 9 tahun bersama saja masih nggak punya kepercayaan sama saya.

Modal pertama : Kepercayaan.

Bermodal uang dari si Customer, saya membeli barang-barang sesuai permintaan dia dan menjual kepadanya dengan harga yang tentu saja saya lebihkan untuk profit saya dong, dan untungnya dia tidak keberatan. Lalu dengan uang sisa ditangan, saya juga punya tabungan yang tidak banyak, saya kembali membeli barang yang sejenis dengan pembayaran 30% dan sisanya saat barang akan dikirimkan ke Indonesia, jadi selama 2 minggu saya mencari pembeli, barang yang ready stock saya ambil dari perusahaan kawan, dan yang tidak ready stock saya ambil DP nya untuk melunasi sisa 70% kewajiban pembayaran ke Factory. Perjalanan dari Factory ke Indonesia butuh 2 bulan, dan selama itu pula saya kumpulkan uang untuk bayar ongkos kirim.

Modal kedua : Kemampuan bernegosiasi dan berbicara

Saya belajar banyak dari Bos saya yang lama, Pak Edi Amin (direktur PT USAHA JAYAMAS BHAKTI), beliau banyak mengajari saya bagaimana cara meyakinkan orang, lalu meyakinkan mereka untuk membeli barang yang kita jual. Lalu kemampuan berbicara saya pelajari dari Pak Harianto dan Pak Pranata (Juga manajemen PT Usaha Jayamas) dimana mereka sangat lihai kalau berbicara di depan orang, membuat orang merasa aman dan yakin. Saya juga belajar negosiasi pembayaran kepada mereka semua.tapi saya tidak belajar caranya cari muka…padahal ada yang lumayan ahli disana, sampai diberi pinjaman tanpa bunga sampai ratusan juta padahal baru beberapa tahun bekerja disana, itupun kerjanya bolak balik ruangan bos dan tidak lupa : menjatuhkan orang lain.

Modal ketiga : Kecepatan mengambil keputusan

Baik keputusan itu nanti salah atau benar, itu urusan nanti, akan lebih baik jika kita memutuskan sesuatu daripada tidak memutuskan apapun. Di Perusahaan yang lama, bisa dibilang saya yang suka mengambil keputusan cepat, intinya dalam penjualan buat saya adalah, bagaimana customer mendapatkan informasi baik harga, spesifikasi dan ketersediaan barang secara cepat, termasuk memberikan penawaran harga secara cepat. Kadang saya melakukan kesalahan tapi dengan cepat juga saya perbaiki agar kompetitor tidak mencoba “masuk” kedalam pikiran si customer. Tidak terhitung jumlahnya saya dimarahi, dicurigai, tapi ya itulah seninya. Saya sendiri berani menyebut selama saya bekerja, 80-90% customer yang bertanya, harus bisa transaksi.sampai saya harus bergadang demi mendapat email jawaban dari supplier yang ada di AS, yang beda waktunya 24 jam.supaya paginya saya bisa memberi jawaban ke customer sesegera mungkin.

Modal terakhir : Uang dan Jaringan

Ini perbedaan antara bos kita dengan kita sebagai karyawan, dan saya memanfaatkan jaringan yang saya miliki, alhamdulillah mereka mau membantu saya melewati tahap kesulitan ini. Tabungan saya bertambah, dalam 5 bulan malah saya bisa punya armada 1 unit kendaraan baru untuk antar barang.

Setelah saya jalani usaha sendiri selama 5 bulan ini, banyak hal yang saya bisa dapatkan, banyak hal yang tenyata sangat sayang untuk dilewatkan dalam hidup, pekerjaan saya saat ini rutin kalau pagi mengantar anak sekolah, lalu sore saya jemput kembali anak saya. Saya juga meninggalkan pemasaran konvensional yang mengharuskan seorang Sales untuk standby di kantor, berangkat jam 6 pagi pulang jam 6 sore. Saya manfaatkan teknologi yang ada, mulai dari Blackberry Messenger, e-mail, blog. Bahkan saya secara bercanda mengharuskan customer saya punya alamat e-mail atau PIN BB untuk mempermudah segala pekerjaan.Disaat orang berdebat sengit mana yang lebih baik antara Android,Iphone,Blackberry atau Windows Phone, saya sudah memutuskan menggunakan Satu sistem saja lalu saya maksimalkan penggunaannya. Daripada coba segala macam alat yang menghabiskan uang namun tidak ada gunanya sama sekali. Atau memilih semuanya hanya karena ada aplikasi yang tidak bisa digunakan di salah satu platform. Hal ini membuat kita tidak juga mampu bergerak maju.

Saya tidak memiliki karyawan, segalanya saya lakukan sendiri mulai dari : Melakukan Packing Barang yang akan dikirim, angkat barang ke mobil, inventori, administrasi penjualan, buka tutup toko, mengeluarkan tagihan, mengirim barang, Impor, beli barang dari luar negeri, ke Bank,bayar tagihan. Segala yang saya lakukan sudah pernah saya lakukan di Perusahaan saya yang dulu, saat saya dicurigai karena saya suka antar barang sendiri, melakukan penagihan ke customer dan lainnya saya sudah terapkan saat ini, dan saya tidak merasa canggung apalagi gagap. Bahkan saya dicurigai menerima sejumlah uang dari customer saya, tapi hei, itukan uang yang saya dapat dari “pekerjaan tambahan” yang saya lakukan, pekerjaan yang orang-orang kantor saya enggan untuk mengerjakannya. Saya dengan aktif saat itu memantau status tagihan customer, bahkan mereka cukup e-mail, mengirim pesan BBM atau SMS ke saya untuk mengetahui status barang, harga, tagihan dan invoice tanpa harus menghubungi kantor yang susah dihubungi atau mereka juga tidak perlu menunggu penawaran via Fax yang kadang membutuhkan waktu seharian atau malah tidak terbaca oleh mereka.Bahkan saat customer menginginkan nilai lebih saya bisa “connect” kan mereka dengan pihak lain yang membutuhkan barang tersebut namun tidak bisa membayar cash. Sementara si customer ini bayar cash dan saya beri potongan harga.otomatis resiko bad debt saya pindahkan.

Customer adalah orang yang membayar kita sebenarnya dan mereka tidak seharusnya direpotkan dengan urusan kecil seperti menunggui mesin fax, atau datang ke kantor untuk melihat wujud fisik barang sementara mereka harus menempuh macet. Saya menawarkan jasa saya untuk mereka.Bahkan saya tidak pernah mengirim fax atau menelepon mereka lho.

Jadi pengusaha itu susah

Benar, jadi pengusaha itu susah banget, makanya jumlah pengusaha di Negeri ini sedikit, jumlah motivator yang buanyak. Beda dengan Jepang, jumlah motivator sedikit sekali karena masyarakat disana lebih terbiasa kerja keras. Bukan saya menyalahkan profesi motivator, profesi itu bagus dan susah juga karena harus mampu meyakinkan orang banyak,menyemangati orang agar mampu bangkit dan berubah, saya juga suka kok dengan motivator seperti James Gwee (Cuma beliau aja karena yang lain saya anggap sama saja). Tapi jika sudah dijalani, dan di tekuni, jadi pengusaha itu enak banget, saya saja menyesal nggak melakukannya lebih cepat, malah keenakan kerja sama orang.

Jadi pengusaha buat saya sih banyak untungnya.

Apa saja? Coba disimak, saya nggak perlu berdesak-desakan di jalan untuk pergi ke kantor, jam berapa saja saya bisa berangkat ke “kantor” saya yang jaraknya Cuma 4km dari rumah. Pergi ke kantor saya Cuma pakai sendal jepit, kaos oblong dan celana pendek, sampai di kantor saya hidupkan AC, buka laptop dan bersantai. Jam 2 siang waktunya jemput anak di sekolah terus pulang, makan siang.

Begitu ada order, kalau sedikit dan jaraknya dekat, saya antar sendiri pakai mobil (nggak berani pakai motor), kalau banyak saya telepon ekspedisi suruh ambil ke Ruko saya, bayarnya akhir minggu (hasil nego dengan yang punya ekspedisi). Kalau lagi males, ya saya diam di rumah, otak atik komputer, mobil, motor, atau nonton film di ruang Home Theater saya pake AC, gimana nggak enak tuh?.

Pengeluaran buat bensin per minggu Cuma 100 ribu, telepon? 50ribu buat langganan paket Blackberry, 75ribu buat mesin Fax,dan 25 ribu buat CDMA. Bandingkan dengan saya bekerja dulu : 1,500,000 buat bensin dan Tol tiap bulan, 200ribu buat GSM, 100 ribu buat CDMA, 50ribu buat langganan BB, take home pay saya jadi kecil, belum lagi kalau makan siang. Tiap seminggu sekali cek Rekening di Bank via Internet Banking, ada aja dana masuk, beda waktu jadi karyawan, ada aja dana keluar…hehehe.Nah ini yang paling enak, kita bisa atur jadwal kerja, atur juga jadwal liburan bersama keluarga.

Mana yang lebih enak?

Jujur, kalau boleh memilih saya lebih suka menjadi karyawan, sulit untuk melakukan keduanya dengan baik dan sempurna, harus ada salah satu yang dikorbankan. Jadi karyawan itu enak, jadwal gajian jelas, dapat uang makan, uang lembur (kalau ada), tunjangan kesehatan, THR, Bonus dan jam kerjanya jelas, pergi pagi pulang sore atau malam. Perusahaan lagi kesulitan pun karyawan tetap dibayar, enak kan. Jangan lupa, jadi karyawan itu bisa men-demo bosnya dan bisa bermimpi jadi bos, nah kalo jadi bos, mana ada yang men-demo karyawan dan setengah mati juga nggak ada bos yang bermimpi jadi bawahan. Jadi wirausahawan ada enaknya, waktunya lebih luwes, kebanyakan pendapatannya juga lebih besar, namun nggak enaknya ada juga pas harus bayar gaji, bonus, THR (hehehe, ini bercanda ya), penghasilannya juga nggak menentu, kadang ada kadang nggak ada sama sekali.

Kemudian memiliki banyak waktu luang, ini serius lho, coba bayangkan, saya bekerja hanya 1-2 hari per minggu yang per harinya Cuma 3-4 jam. Jadi bisa punya banyak waktu untuk melakukan hal baik lainnya seperti ke tempat ibadah misalnya atau mengunjungi orangtua dan saudara yang jarang kita bisa lakukan kalau kita bekerja 8-9 jam 5 hari seminggu. O iya saya juga bisa membawa keluarga jalan-jalan keluar kota disaat orang lain sibuk kerja, kalau customer saya menelepon saya tinggal bilang “wah saya lagi diluar kota bos, bisa 2 hari lagi ya saya antar barangnya”

Saat ini kalau ditanya orang, apa pekerjaan saya, dengan bangga saya menjawab “Saya supir ekspedisi”Kadang saya juga bilang Jaga Toko, Sales, bahkan saya juga menerima jasa poles mobil yang sudah jadi hobi.

 

15 thoughts on “Wirausaha atau jadi Karyawan

  1. Sangat salut, ketika kita sudah disadarkan dengan kondisi duniawi yang jahat, menyumpahkan hati dengan berkata bekerja adalah untuk hidup, bukanlah sebaliknya. Salut masih ada orang yang mau mengartikan dan menjalani sebuah kesuksesan dengan kerja keras. Tuhan sangat adil ketika kita bijaksana dalam mengambil keputusan. Salam Brondonk

  2. Wah luar biasa agan ini. Kuncinya di fokus dan tekuni bidang ya. Saya sedang merintis juga dan coba fokus. Tetap saja ada yang mengganggu kalau bekerja itu lebih aman dan anehnya sedikit memaksakan untuk bekerja. Yang jalanin siapa yang pusing siapa. hahaa. nice posting. sukses selalu…..

    1. Jangan pusing2 pak, dijalani saja, ditekuni…nanti juga ketemu celahnya. kalau memang harus bekerja sama orang ya itu mungkin lebih baik, saya jadi wirausaha juha karena kepaksa..hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s