Kota Para “Bajingan”

Kota Para Bajingan

Menarik apa yang dikatakan Pak Wagub DKI, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok belum lama ini saat menanggapi maraknya tawuran Sekolah di DKI, sebagai pejabat publik memang tidak pantas pak Ahok berkata seperti itu apalagi di tulis di media, namun saya pribadi tidak menyalahkan beliau. Saya orang yang belajar secara otodidak segala sesuatunya menganggap apa yang dikatakan pak Ahok itu memang benar adanya, di Jakarta, jika kita berperilaku atau bertutur kata yang sopan malah dianggap lembek, loyo, “impoten”, lemah, penakut dan lainsebagainya. Saya lebih setuju jika Ahok keras kalau perlu kasar dalam pemilihan kata-katanya ditengah makin ngawur, kasar, brengsek warga Ibukota Jakarta. Salah satu idola saya alm. Ali Sadikin pernah menyebut kalau di Jakarta ini Lalu lintas nya Brengsek!. Padahal beliau mengatakan itu tahun 70an lho.

Beliau juga menyebut Lalu lintas macet bukan karena LLAJR,Polantas atau Pemda DKI, melainkan tidak adanya sopan santun dan disiplin dalam ber lalu lintas. Hebat kan, tahun 70an saja Gubernur DKI sudah bilang begitu apalagi tahun 2013 sekarang, saya yakin seyakin yakinnya lalu Lintas di DKI makin Gila, makin Brengsek dan makin nggak teratur, disebabkan ya banyaknya Bajingan Jalanan yang berkeliaran di jalan ibukota.

Mau contoh?

Saya beri beberapa contoh

Siapa dari anda semua yang jalan di Ibukota tidak pernah melihat Sepeda motor melawan arus?, atau Sepeda Motor lewat di Trotoar, Sepeda motor berteduh di bawah flyover memakan badan jalan, sepeda motor memutar sembarangan, sepeda motor parkir seenaknya, sepeda motor zigzag nggak aturan, sepeda motor menyenggol pengendara mobil lalu kabur seperti pengecut. Siapa? Pasti dalam satu hari pernah melihat kejadian tersebut. Hei, Kok Cuma pengendara motor saja yang disebut? Saya yakin juga tidak banyak pengendara mobil yang melakukan hal itu, kecuali pengemudi angkutan umum.

Nah ini pengendara mobil. Siapa yang tidak pernah melihat pengendara mobil jalan pelan di lajur kanan, menyetir sambil menelepon atau SMS, menyetir serampangan di jalanan padat, menyetir kencang di bahu jalan tol, buang sampah sembarangan padahal mobilnya bagus atau yang belakangan ini, disaat yang lain bermacet-macet sementara ada yang dengan enaknya lewat jalur busway.

Pedagang Kaki Lima….. sudah dari jaman dulu (saya nggak tahu persis tahunnya- sepertinya saat saya belum lahir) pedagang kaki lima itu menjadi penguasa trotoar, asal ada trotoar kosong, satu per satu pedagang K5 mulai mengisi slot yang ada, dengan gratis pula. Ini pengalaman saya, saya punya Ruko, saya beli dengan uang ratusan juta dan dengan ijin yang jelas, kompleks ruko saya malah dipenuhi pedagang Kaki Lima yang jangankan membeli ruko, ijin berdagang pun saya rasa nggak punya, hanya membayar 10ribu per hari yang katanya untuk keamanan dan kebersihan tapi selesai mereka berdagang, sampah pun muncul  berserakan.

Inilah yang saya sebut orang orang Biadab, bajingan tapi tidak mau disebut demikian. Budaya korup sudah dimiliki segala lapisan masyarakat kita. Sadar nggak sih, kalau kita berteriak “KAMI ANTI KORUPSI!!” sementara di jalanan mereka dengan enaknya mengambil jalan orang lain yang lebih berhak, mereka benci setengah mati dan setengahnya lagi hidup kepada para koruptor, tapi disaat yang sama mereka juga melakukan korupsi. Lihat saja yang gampang, Pedagang mengurangi timbangan, pedagang tidak jujur pada pembelinya, pengendara motor atau mobil lewat jalur Busway, lalu pas kena tilang mereka bayar denda damai ke petugas, berteduh dibawah flyover menutup ½ jalan seolah Cuma mereka yang punya kepentingan di jalanan, seolah hanya mereka yang bayar Pajak…ooops tunggu dulu, ini menurut rekan saya yang bekerja di leasing, dia menyebut rata-rata hanya 40% saja pemilik sepeda motor yang membayar pajak tahunan, sisanya untung-untungan, toh Polisi tidak bisa menilang motor yang pajaknya mati. Setelah 5 tahun biasanya mereka menjual motornya tersebut dengan kondisi pajak mati lalu beli yang baru. Bayangkan, berapa triliun uang negara yang hilang dari sektor pajak kendaraan ini saja. Saya pun punya ide, bagaimana jika setiap beli Motor/Mobil harus membayar pajak untuk 5 tahun kedepan, nah ini Pajak PRABAYAR namanya. Bayangkan dana yang bisa dipungut dalam sekali pembelian. Ide Gila? Jelas, untuk kota yang juga gila.

Suatu kali saya terjebak dalam tawuran pelajar, dari kejauhan saya melihat para pelajar saling lempar batu, pukul pukulan. Para pejabat negeri ini terus berdebat bagaimana caranya supaya tawuran ini hilang, ada yang bilang diadakan pentas seni pelajar, pekan olahraga pelajar dan segala macam yang berbau pelajar. Dananya dari mana? Siapa yang mengawasi? Bakalan jadi lahan korupsi baru nanti. Apa yang dilakukan Pak Ahok saya rasa sudah “mulai benar” catat! MULAI BENAR. Pecat saja pelajar yang ikut tawuran, apalagi kalau mereka sekolah di sekolah negeri, banyak yang mau masuk sekolah negeri, jangan khawatir. Nah itu juga yang membuat saya khawatir pelaksanaan Wajib Militer di Republik ini, toh tanpa wajib militer saja banyak masyarakat kita yang gayanya lebih militer dari militer itu sendiri, apalagi di beri wajib militer, bisa dibayangkan.  Balik ke tawuran pelajar, kalo orangtua murid yang dipecat mau menuntut, mau melapor ke Pengadilan, silakan saja, Pemda DKI juga berhak melaporkan balik mereka dong dengan tuduhan melakukan tindak anarki, mengganggu ketertiban umum, apalah namanya, toh di Indonesia apapun bisa dibuat asal ada kemauan.

Di kota para Bajingan ini, beberapa orang yang tidak mau disebut bajingan pun menjadi serba salah, anda bisa bayangkan di Lampu Merah, lampu belum hijau tapi di belakang sudah klakson-klakson supaya kita bergerak maju hanya karena melihat persimpangan yang kosong..Bajingan kan?

Saat saya mengantarkan anak saya yang sakit ke Rumah Sakit, saya pakai mobil menyalakan lampu Hazzard untuk minta jalan, ada saja pengedara motor yang sengaja mengambil jalur saya dari arah berlawanan supaya saya minggir, Bajingan kan mereka? Nggak tahu apa arti Hazzard, belum tahu kalau itu menimpa keluarga mereka, biar mampus dijalan.

Di Putaran arah, dari kejauhan motor/mobil masih jauh, kita beri lampu sein untuk putar arah, tiba-tiba mereka ngebut, nyalakan lampu dim supaya kita berhenti memutar sebelum mereka lewat, setelah berhasil memutar mereka lewat lalu mengumpat kearah kita, Bajingan kan?

Di beberapa lokasi di Jakarta, pembatas jalan dijebol untuk putar arah oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, pasti yang melakukan orang-orang sekitar situ, nggak mungkin saya di bekasi menjebol pembatas jalan di wilayah cempaka putih misalnya, kejauhan!. Buat apa? Ya jelas supaya warga disana mudah berputar arah, tidak terlalu jauh, atau pendapatan tambahan buat para “polisi cepek”.

Sebenarnya banyak lagi contoh yang menunjukkan betapa “Bajingan” nya Kota Jakarta ini. Pak Jokowi tutur katanya halus dan tertata rapi, beda dengan Ahok yang cenderung keras dan kasar, saya rasa itu kombinasi terbaik. Yang satu untuk menghadapi para pejabat yang sok Jaim (Jaga Image) padahal mereka itu banyak yang merupakan penjahat sebenarnya. Sementara yang satu untuk menghadapi para preman, warga brengsek, penjahat jalanan dan para mafia tanah dll yang berkeliaran di DKI.

Kebijakan Denda penerobos jalur TransJakarta juga sudah benar, tapi melihat dendanya masih kurang besar.Kalau perlu para pengendara motor di denda 1 juta, sementara pengendara mobil 2 juta. Dendanya dibagi bagi saja untuk Pemda (Buat bangun jalur busway tambahan) Kepolisian dan Petugas di Lapangan (buat tambahan daripada dapat dari denda damai yang jelas melanggar peraturan) saya yakin bakal banyak petugas yang mau panas-panasan dan kehujanan nongkrong di jalan.

Yang parkir liar bagaimana? Kempesin ban nggak kapok, cabut pelat nomor makan waktu lama dan butuh banyak petugas, yang gampang saja Siapin aja mesin giling untuk melindas mereka yang parkir liar, wah ini extreme sekali, betul! Para pelanggar lebih ekstrem lagi berani melanggar aturan yang sudah jelas. Mobil yang parkir pinggir jalan dicoret saja pakai cat semprot bodi mobilnya, atau di semprot pakai logo dishub/kepolisian misalnya, kayak catnya uji KIR di angkutan umum. Lumayan kan buat cat ulang satu panel saja habis 500ribuan.

Tidak ada kata yang lebih halus lagi dari kata “Bajingan” untuk mengungkapkan bagaimana brengsek nya penduduk ibukota, hampir semua penghuninya begitu, pengendara motor, mobil, angkutan umum, pedagang K5, Hampir semuanya. Buat yang nggak merasa Bajingan ya jangan marah dengan tulisan ini, yang merasa bajingan ya terima saja, toh memang begitu kelakuannya.

Saya pribadi menunggu langkah Pemda DKI dan POLDA Metro Jaya selanjutnya, sebagai orang Betawi yang lahir dan besar di Jakarta, saya miris dengan kota Jakarta ini, semakin ke depan semakin nggak jelas, semua orang meng klaim kepemilikan kota ini, orang yang punya duit beli mobil menganggap dirinya paling benar, paling kaya, sementara pengendara motor menganggap dirinya korban ketidak adilan sehingga banyak yang berlaku liar, barbar, mencari pembenaran atas pelanggaran yang dilakukan, mulai dari “saya buru-buru” “saya orang kecil”, “saya takut terlambat”, “panas pak”. Pedagang K5 juga beralasan Cuma cari makan, nggak ada tempat lagi, nggak punya modal…berjuta alasan yang menjadi pembenaran.

Buat Pak Ahok, diteruskan saja pak sikap keras bapak, jangan melunak, nanti malah ngelunjak! Buat Pak Jokowi, teruskan saja sterilisasi jalur transjakarta, monorail dll, Banjir, Macet memang sudah bagian dari Jakarta sejak dulu. Tunjukkan siapa yang berkuasa di Jakarta!

One thought on “Kota Para “Bajingan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s