Get Straight … (Part 1)

Let’s Get Straight … sekedar meluruskan segala hal tentang diri saya, yang sebagian besar orang anggap. Survei kecil-kecilan saya terhadap beberapa orang dekat, teman, saudara tentang saya.

Idealis? Ya paling tidak itulah jawaban dari 85% orang yang saya tanya tentang diri saya, mungkin karena pendidikan di keluarga. Pendidikan Formal tidak membentuk karakter saya, tapi keluarga berperan amat penting pada diri saya. Antara Nekat, dan Berani juga ternyata 60% mengatakan bahwa saya Nekat. Keluar kerja pada saat Istri saya hamil 6 bulan anak ke-3 kami sementara uang tidak di tangan, menjadi salah satu kenekatan saya bertindak.

90% menjawab Misterius, Tertutup – well saya tidak pernah menganggap diri saya menutup diri, saya open kepada semua orang, hanya saja saya sangat berhati-hati dengan setiap orang, dan saya tidak mudah percaya dengan semua orang yang saya temui.

Saya tidak memiliki banyak teman, itu sebabnya saya juga tidak memiliki seorang sahabat. Jauh waktu SD dulu saya punya seorang yang saya anggap teman baik, namun dia tiba-tiba pindah rumah tanpa memberitahu, pamit pun tidak. Atau ketika saya menemukan teman baik lagi di sekolah yang sama, tiba-tiba dia pindah sekolah dan tidak bisa lagi saya temui. Saya kecewa? Tentu saja…hingga sekarang pun saya memilih untuk tidak memiliki teman baik atau sahabat, kenapa? Karena saya tidak mau berpikir yang sulit-sulit tentang seseorang, jika dia pergi maka silakan pergi saja, atau jika dia menghilang, saya tidak perlu repot mencari kontaknya apalagi mencari tempat tinggalnya, wasted time.

Terus begitu sampai SMA, ketika saya pindah SMA pun, tidak ada yang saya beritahu, biar saja, toh bukan urusan mereka juga. Di Sekolah yang baru saya juga tidak memiliki teman dekat, hanya sekedar say hello, ngobrol saja tidak menanyakan alamat rumah, nomor telepon atau pager. Inipun membuat saya menjadi individu yang sangat mandiri dan individualistis.

Terbawa ke dunia Kuliah, selesai kuliah saya tidak nongkrong dimana-mana, sekedar minum kopi atau sekedar minum teh di kantin belakang kampus pun tidak saya lakukan. What’s done is done buat saya, nggak perlu diperpanjang lagi.Akibatnya saya makin jauh dari teman kuliah saya. Beberapa orang menganggap itu sebuah kesalahan, karena justru pergaulan di kampus akan membuat saya mudah mencari kerja. Jawaban saya simpel saja : I don’t Care… saya adalah saya, nggak perlu berubah hanya untuk sekedar kemudahan, apalagi sampai mendekati seseorang untuk mendapatkan apa yang saya inginkan.

Di kantor? Sama saja, saya lebih suka berkutat di ruangan cubicle saya daripada harus berkeliling ngobrol seharian, atau saya lebih suka pergi ke gudang untuk melihat-lihat barang yang ada daripada saya ngobrol dengan karyawan lain. Itu juga yang membuat saya rentan “diserang” dengan beribu alasan untuk menjatuhkan saya.

Well, saya tidak seperti kebanyakan orang di Perusahaan tersebut, yang silau dengan pendidikan tinggi, kecerdasan otak,kelihaian berbicara, atau mencari muka. Pendidikan saya seadanya, S-1 dengan IPK dibawah 2,7, kemampuan akademik saya juga pas-pasan, kemampuan verbal saya juga lemah, itu sebabnya saya tidak bisa melakukan presentasi sendirian dan harus dibantu orang lain. Tapi….

Saya bekerja keras untuk meraih posisi tertinggi yang bisa dicapai seorang staf dalam perusahaan tersebut, butuh waktu panjang sampai 8 tahun dibandingkan beberapa orang yang bisa mencapainya dalam hitungan bulan dengan cara menjatuhkan orang lain. I work hard for it. Saya kerja keras untuk membuat produk yang saya jual menjadi market leader, membuat produk tersebut menjadi most wanted, membuat profit hingga rata-rata 200% profit. Bukan dengan cara menjilat sana sini.itu sebabnya setiap saya interview di sebuah perusahaan dan HRD menanyakan tingkat pendidikan dan IPK, saya hanya menjawab “I work hard for achieve this, hire me or fail me” hasilnya? selalu Gagal..hehehe.

Here’s The Truth…

Ini kenyataan yang saya tutupi selama 3 tahun kenapa saya mengundurkan diri dari perusahaan yang sebenarnya saya sangat sayangi. Anda bayangkan betapa sulit keputusan ini tapi harus saya membuat keputusan sebelum saya terlanjur jauh melangkah., kenyataannya adalah …

“Saya harus keluar dari lingkaran setan, bos saya yang satu ini sangat baik, saya tidak sanggup mengecewakan beliau yang sudah saya anggap sebagai orangtua. Kondisi perusahaan semakin tidak jelas buat saya, ibarat kapal, perusahaan itu terlalu berat bebannya, dan beban itu tidak seharusnya berada disana. Begitu banyak kebocoran yang ada, dan saya tidak mampu selamanya diam. Orang-orang yang seharusnya bisa membantu ternyata malah membuat kacau keadaan. Sedikit kesalahan saja bisa berakibat fatal, padahal saya beranggapan bahwa perusahaan ini sangat mentolerir kesalahan, dan saya banyak sekali melakukan kesalahan. Ditambah lagi, kekesalan saya terhadap seseorang disana, bisa membuat saya membunuh dia jika saya makin lama disini, saya pikir saya harus menghindari kemudharatan tersebut demi kemaslahatan. Saya bukan orang yang bisa di bungkam dengan uang atau gaji besar dan fasilitas mewah, begitu banyak kecurangan yang didiamkan, membuat perusahaan selalu mengeluarkan uang yang seharusnya tidak dikeluarkan.dan gilanya saya tahu siapa-siapa yang bermain, tanpa saya bisa berbuat apa-apa.sesuatu yang saya tidak bisa lakukan. Akhirnya saya menemukan celah untuk bisa resign, sebuah celah yang kecil dan terpaksa melukai diri saya hingga sekarang, saya di fitnah, dijelekkan, dijatuhkan…tapi saya rasa itu jauh lebih baik daripada saya berada didalamnya dan melakukan hal sama terhadap orang lain”

Bergabung lagi dengan sebuah perusahaan, ternyata lagi-lagi membuat saya tidak nyaman karena tidak sesuai dengan filosofi saya yang lebih ke Kaizen (bertahap)

“Saya keluar lagi, karena atasan saya yang satu ini begitu bodohnya (paling tidak menurut saya) dan begitu royalnya mengeluarkan uang setiap hari untuk sekedar makan siang yang jumlahnya ratusan sampai jutaan rupiah, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan penjualan, men-develop sebuah team work yang baik, bahkan tidak juga menepati janjinya untuk memberikan fee tiap 3 bulan kepada karyawannya dengan alasan tidak perform (lalu alasan keluar uang tiap hari mentraktir staff sebuah perusahaan minyak milik negara itu untuk apa? Kalau hanya sekedar hura-hura?) lebih baik uangnya dibagikan ke karyawan supaya bekerja lebih baik. Sekali lagi saya tidak butuh uangnya… tapi saya butuh komitmennya penuhi kebutuhan anggota tim saya dulu, baru bicara lain, saya tidak perlu kebagian juga tidak apa-apa, toh “kebodohan”dia yang lain adalah minta profit bersih 20% saja, padahal saya bisa mendapat hingga 70% profit tambahan setelah naik 20% tadi. Alasannya supaya barang cepat laku juga sangat absurd, itu malah membuat harga market menjadi hancur dan saya tidak bisa lakukan itu, karena setelahnya saya yang akan ambil alih produk tersebut”

 

to be continued …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s