Monorail di Jakarta?

Tiba-tiba handphone saya berdering (saya lupa matikan karena sudah diatas jam 8 malam) ternyata dari customer saya Pak Mulyoto, saya pikir dia mau nanya soal barang tapi ternyata sekedar ngobrol. Ngalor ngidul ngobrol segala macam akhirnya masuk ke Inti permasalahan negara yaitu naiknya BBM dan kurs Rupiah yang loyo melawan US Dollar. Gara-gara kenaikan BBM dan kurs rupiah ini proyek jadi banyak yang ter pending, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Saya bilang pada beliau (ini Cuma obrolan santai aja sambil tertawa-tawa) kalau di Republik ini untuk menjadi Presiden dan Menterinya tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, apalagi sampai harus profesor, bahkan lulusan SMP seperti ibu Susi pun nggak masalah. Saat ini yang lebih diperlukan adalah Pemimpin dan Menterinya yang Sayang dan cinta pada rakyat, memihak rakyat, mencintai negeri dan Republik ini, soal pendidikan memang penting tapi bukan yang paling utama.

Kelemahan orang yang berpendidikan tinggi dan orang pintar kalau sudah berada di atas itu cenderung memikirkan dirinya sendiri, merasa kalau dia sudah paling pintar lah pokoknya, paling the best, anggapannya tuh “saya sudah sekolah tinggi, gelar berderet, pasti saya ini paling pintar” akibatnya apa? Ya seperti sekarang ini, antara bos dan anak buah nggak KLOP. Jalan sendiri-sendiri, tidak mau diperintah, merasa atasannya tidak sepintar dia, dan malas atau nggak mau koordinasi.

Akibat fatalnya apa? Ya rakyat kebingungan dong, mereka kan yang beneran kerja mati-matian. Malah belum-belum pejabat kita ada yang bilang “Rakyat belum maksimal bayar pajak, belum disiplin” . Kalo buat saya benahi dulu cara menghitung pajak nya, bikin sistem online yang memudahkan orang tahu berapa pajak yang harus dia bayar, lalu tinggal transfer ke rekening tertentu dan mendapat bukti bayar, saya yakin bisa meningkat daripada sekedar teriak-teriak di media nggak karuan soal kurangnya kesadaran masyarakat membayar pajak, ah nggak cerdas amat. Susah? Dikasih gaji gede, tunjangan ada, renumerasi segala macam masih bilang susah. Jaman udah canggih kok masih bilang susah….

Lalu soal transportasi publik, kita butuh pemimpin yang sayang sama rakyat nya, yang benar-benar memahami rakyat, jangan Cuma cari proyek doang. Harusnya kan tau, kalau bikin monorail, sebaiknya jangan di tengah kota, malah bikin rusuh, orang kan kerja dan berputar di tengah jakarta, pasti malah bikin tambah macet, iya kalo jadi, buktinya sampai sekarang nggak ada kabar beritanya.

Saran saya gimana? Ini saran orang awam, dan orang yang nggak pintar… bikin monorail di pinggiran kota Jakarta, tau kan pintu masuk ke Jakarta itu ada beberapa, Cawang, Daan Mogot, tanjung Priok dan beberapa tempat lain, bikin saja stasiun monorail disana, selanjutnya bikin stasiun kecil-kecil di lokasi pusat perdagangan dan bisnis, setelah itu biar masyarakat yang melanjutkan perjalanan jarak dekat menggunakan moda transport yang lain.

karena menurut saya, orang yang sudah berada di Jakarta tidak bisa diatur-atur mau naik angkutan umum atau kendaraan pribadi. Yang bisa diatur adalah orang-orang yang akan memasuki Jakarta, mereka yang harus di filter supaya tidak membawa kendaraan pribadinya masuk Jakarta, dengan cara buat mereka mudah untuk menjangkau wilayah dimana mereka beraktivitas.

Karena saya di Bekasi saya contohkan buat stasiun besar monorail di Persimpangan Metropolitan Mall Bekasi (karena hampir seluruh warga Bekasi akan keluar ke Jakarta, Bogor melalui jalur itu) lalu melintas lewat Kalimalang, stasiun 1 di Pasar Sumber Arta, stasiun 2 di Pangkalan Jati, lalu stasiun 3 di Simpang Cawang. Kemudian lurus lagi melewati MT Haryono ada stasiun Tebet Misalnya, lanjut ke Stasiun Gatot Subroto, lalu ke Simpang Senayan, Slipi dan Grogol Sebagai stasiun besar tujuan. Dari Grogol ada lagi tujuan yang ke Jembatan tiga, Pluit,Ancol, Cilincing, Kelapa Gading, Rawamangun, jatinegara lalu bersambung ke Cawang.

Peta_Jakarta

Mungkin ide ini terdengar gila, tapi harus ada “orang gila” yang mau bikin hal seperti ini. Kalau ini terwujud saya optimis angkutan kecil nggak mati, orang juga mau sedikit demi sedikit meninggalkan kendaraan pribadinya.

Rhine Jerman Sydney Hamburg Jerman TMII

Kelebihan dan kekurangan Monorail

Kelebihan

– Membutuhkan ruang yang kecil baik ruang vertikal maupun horizontal. Lebar yang diperlukan adalah selebar kereta dan karena dibuat di atas jalan, hanya membutuhkan ruang untuk tiang penyangga.

– Terlihat lebih “ringan” daripada kereta konvensional dengan rel terelevasi dan hanya menutupi sebagian kecil langit.

– Tidak bising karena menggunakan roda karet yang berjalan di beton.

– Bisa menanjak, menurun, dan berbelok lebih cepat dibanding kereta biasa.

– Lebih aman karena dengan kereta yang memegang rel, risiko terguling jauh lebih kecil. Resiko menabrak pejalan kaki pun sangat minim.

– Lebih murah untuk dibangun dan dirawat dibanding kereta bawah tanah.

Kekurangan

– Dibanding dengan kereta bawah tanah, monorel terasa lebih memakan tempat.

– Dalam keadaan darurat, penumpang tidak bisa langsung dievakuasi karena tidak ada jalan keluar kecuali di stasiun (tau kan di Indonesia, harga barang yang bagus 500 perak bisa yang dikasi barang harga 250, sisanya dibagi-bagi ke pejabat yang berwenang lalu harga yang ditagihkan tetap 500)

– Kapasitasnya masih dipertanyakan (jumlah pejalan commuter jabodetabek sangat tinggi, tapi jika bisa mengurangi 30-50% nya yang beredar dijalanan, itu sudah sangat bagus)

Lagipula, Indonesia sebenarnya sudah ada teknologinya dan sudah ada yang pakai meskipun masih dalam jumlah penumpang terbatas, lihat saja di Taman Minim Indonesia Indah

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s