It’s Not About The Money

Salah satu yang bikin saya tidak pernah bosan menjadi pedagang adalah setiap hari ada saja cerita soal mereka. Yang baik-baik atau sampai yang buruk.

Salah satu pedagang Kaki Lima mendatangi rumah saya suatu sore dan menyerahkan satu berkas sertifikat rumah dan akta jual belinya kepada saya.

Saya heran bercampur kaget, ada apa si Bapak ini tiba-tiba datang dan menyerahkan sertifikat tersebut. Ternyata ia mau meminjam uang kepada saya sebesar 5 juta rupiah dan jaminannya adalah Sertifikat Rumah.

Saya ambil sertifikat itu dan saya bilang akan me review dan akan saya kabari. Langsung hari itu juga saya minta anak buah saya mengecek profil si lelaki tadi, memang saya sudah kenal dengannya tapi soal pinjam uang lain lagi ceritanya.

Keesokan hari saya kembalikan Sertifikat tersebut, dengan alasan bahwa sertifikat tersebut kurang lengkap dan saya tidak bisa meminjamkan uang sepeserpun kepadanya. Iapun gontai pergi meninggalkan ruko saya.

Apa sih yang membuat saya tidak meminjamkan uang tersebut :

Ternyata uang tersebut akan digunakan untuk menutup hutangnya kepada pihak lain

  1. Ia hobi berjudi
  2. Saya yakin dia tidak akan bisa mengembalikan pinjamannya kepada saya.

Secara teori harusnya saya ambil saja sertifikat itu, rumah yang dijaminkan pun nilainya sudah mencapai 300 juta sekarang. Untung kan? Kasih pinjaman 5 juta kalau nggak bisa bayar (dan saya yakin tidak akan mampu membayar melihat track record nya dikejar banyak debt collector) saya ambil rumahnya lalu saya jual murah…untung besar.

Sekali lagi…its not about the money. Saya suka uang, menikmatinya juga.Tapi saya lebih menyukai cara mendapatkannya. Bapak tadi punya anak satu dan seorang istri. Mobilnya sudah di gadai dan tidak mampu ditebus. Apa jadinya jika saya hanya melihat keuntungan semata lalu saya ambil juga rumahnya? Memang tidak salah dan sah sah saja, tapi saya harus melihat sisi lain yaitu ada anak dan istrinya yang pasti membutuhkan tempat tinggal. Terutama si anak yang masih belum sekolah dan tidak tahu apa-apa. Jika saya menuruti nafsu, sudah beberapa rumah dan kendaraan yang saya punya saat ini, tapi sekali lagi saya lebih suka memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berubah dan mencari jalan keluar yang lebih baik daripada sekedar main gadai harta bendanya kepada orang lain.

Seorang keluarga saya juga pernah meminta hal sama kepada saya, meminjam 10 juta dengan mencicil 500ribu per bulan dan tanpa Bunga. Jaminannya Sertifikat Rumah. Sebenarnya 500ribu sebulan itu buat saya nggak akan bisa jadi apa-apa. Tapi ia akan memakai uang 10 juta itu untuk bayar kontrakan setahun, tadinya mau pinjam uang Bank tapi saya mengajukan diri akan meminjami dia uang daripada “dimakan” oleh Bank. Sudah hampir 2 tahun ternyata belum lunas-lunas juga , hehehe…

Its Not about the money…apakah itu 100juta, 250juta atau bahkan 1 milyar sekalipun, buat saya bukan jumlah atau nilai uangnya, tapi bagaimana cara saya mendapatkannya tanpa harus membuat orang lain susah atau menderita. Kasus pertama, saya lebih suka meminjamkan uang 5 juta tapi dia tidak mampu bayar lalu saya anggap hutang (jadi ladang amal saya di akhirat nanti) daripada saya ambil rumahnya, lalu mereka jadi tidak punya rumah sama sekali. Dan saya harus mempertanggung jawabkannya di akhirat nanti begitu ditanya bagaimana cara saya mendapat rumah tersebut.

Selama bekerja dulu juga tidak terhitung banyaknya customer yang berjanji memberikan saya komisi saat mengerjakan sebuah project. tapi semua terpaksa saya tolak karena ayah saya mengajarkan untuk tidak memberikan harga atas bantuan yang saya berikan, apalagi itu memang menjadi tugas saya membantu customer agar bisa mendapat profit yang cukup.

Sempat saya dicurigai oleh bos saya saat itu,karena saya sangat all out membantu customer, sampai akhirnya si customer sendiri yang bilang bahwa “Pak andry tidak pernah meminta sepeserpun komisi atau meminta commitment fee kepada kami” atau bahkan saya sempat dituduh menjual Selang Sablonan kepada main customer kami saat itu, saya bingung… saya butuh uang tapi nggak seperti itu caranya apalagi sampai main belakang. Akhirnya main customer kami juga yang mengklarifikasi bahwa selang tersebut didapat dari pihak lain. Saya tidak perlu mengklarifikasi apapun, karena percuma menjelaskan kalau mata hatinya sudah tertutup (maklum si bos ini juga tukang Copy produk Asli jadi Aspal) – maaf ya bos, kalau sama penguasa saya akan bicara yang jelek-jelek atau apa adanya —

Lagi-lagi bukan soal jumlah uangnya, tapi bagaimana cara mendapatkannya.dan saya sangat menikmati proses tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s