Ngawurisasi

Suatu hari saya menulis di twitter menanyakan soal Bagaimana jika saya tidak bayar pajak sebelum jalanan umum di wilayah perumahan saya diperbaiki dan saya mention ke sebuah akun pajak. Admin akun tersebut malah menyuruh saya membangun jalanan sendiri. Aneh kan, nggak nyambung. Dan jawabannya kok tipikal banget, emosional, mau menang sendiri dan kuno. Kenapa kuno? Saya berharap admin akun tersebut bukan pejabat negara ini, saya berharap pemilik akun tersebut Cuma orang biasa. Hari gini menjawab pertanyaan kritis dari masyarakat kok masih pake nada emosional. Bahaya kalau pejabat negara memiliki mental emosional dan asal bunyi. Ngawur!

Tahukah anda jika ada wilayah perumahan di bekasi yang seluruh warganya menolak bayar PBB jika jalanan di perumahannya tidak diperbaiki? Itu nyata. Setelah jalanan diperbaiki baru mereka beramai-ramai bayar PBB. Apalagi mereka bertahun-tahun bayar PBB tanpa ada tunggakan, wajar kalau mereka balik bertanya, kemana saja duitnya?

Ekonomi Indonesia melambat, itu semua orang juga tahu, nggak usah dikasih tahu lagi. Masalahnya para pejabat kita itu bicara dengan rakyat itu dibikin njlimet, “Tahun fiskal segini, kita mendapat surplus anggaran sekian triliun, cadangan devisa kita meningkat, ekspor melambat,makro ekonomi bla bla bla” Rakyat yang bengong, pedagang sayur dipasar bingung kok harga sembako makin tinggi, konsumen juga bingung “Ngomong opo iku wong” Kalau jaman orde baru Rakyat dibikin senang, dinina bobokan dengan berbagai program dan kebijakan yang katanya pro rakyat ya wajar saja, rakyat harus dibikin tenang dulu, bisa cari makan, punya pekerjaan, mengenai anggaran negara yang jebol karena subsidi mana mereka mau tahu, yang mereka tahu Cuma satu, harga sembako terjangkau (bukan murah) harga stabil, pekerjaan tersedia, perusahaan nyaman berusaha di sini, itu sudah cukup.

Baca lagi di berita, anggaran APBN 2016 nyaris 2,200 Triliun, duit semua? Pastinya dan saya nggak bisa membayangkan sebanyak apa duit itu. Darimana Pemerintah dapat uang segitu? Menko Perekonomian bilang “Ya darimana lagi kalau bukan dari Pajak” Matilah kita ini sebagai rakyat, bakal diperas lagi. Pajak naik, dikejar pajak, bakal ada hitungan lagi soal pajak ini itu.Setoran pajak hanya mencapai 92% artinya sisanya bakal dikejar lagi. Para pejabat yang nggak kreatif ini hidup enak-enakan dengan fasilitas negara yang dibayar oleh rakyatnya.

Fasilitas Penunjang di Tol CIPALI belum layak? , ini yang menyebabkan banyak kecelakaan. Saya pernah melintas di Tol ini, dengan kecepatan tinggi juga hampir 200km per jam. Apa penilaian saya? Tol ini layak kok dilintasi. Hanya saja sebenarnya tol ini bukan buat ngebut, nggak ada tol di Indonesia yang didesain untuk ngebut sampai 200Km/jam dan yang mendesain tol ini juga bukan Hermann Tilke (perancang sirkuit balap kelas dunia) , emang mau kemana buru-buru? Lagian juga di ujung tol nggak ada bendera hitam putih berkibar, nggak ada penonton yang bertepuk tangan, nggak ada juga podium disana. Kalo anda celaka ya salah anda sendiri, Jalan tol ini enak buat jalan santai saja antara 80-100Km/jam, toh pembatas jalannya tidak didesain untuk menerima hantaman diatas kecepatan itu.

Seorang pedagang kaki lima mengeluh kalau omzetnya menurun drastis, rejekinya berkurang. Saya bilang bukan berkurang…rejekinya tetap ada, hanya saja sekarang harus dibagi-bagi ke pedagang lain. Toh jumlah penduduk makin banyak, pesaing juga makin banyak, alam ini akan melakukan Balancing sendiri, manusia juga akan melakukan adjustment sendiri, namanya krisis akan datang silih berganti, tapi semua orang akan mendapati kadar rejekinya masing-masing. Kekayaan berkurang juga merupakan hal yang biasa, hanya bagaimana cara kita menikmatinya saja.

Lebaran 2015 juga membuat jalanan di Ibukota Jakarta menjadi lebih lengang dan tentu saja … manusiawi. Ribuan pemudik meninggalkan Jakarta dan membawa karakter mereka masing-masing ke kampung halaman, ada yang rese’, bikin muak, mengesalkan, jorok, brengsek, arogan, kurangajar, ada juga yang sopan, menjaga kebersihan, rapih. Lihat saja di tol dan sepanjang jalur mudik bagaimana mereka bersikap, itulah gambaran penduduk kota besar. Selain uang yang mereka bawa ke kampung, mereka juga membawa karakter jelek dan baik mereka kesana, bagi-bagi lah. Dan selama mereka di kampung, jujur … jalanan di Ibukota serasa longgar dan nyaman sekali.

Selamat menikmati krisis,tulisan ini cuma tulisan ngawur…karena kebetulan jenuh kebanyakan libur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s