Tol Cipali

Beragam kisah horor soal tol Cipali (Cikampek – Palimanan) mendorong saya untuk mencoba tol tersebut pada hari Kamis lalu 23 Juli. Menghitung bahwa akan ada arus balik lebaran pada Selasa, Jumat dan Sabtu saya mencoba masuk hari Kamis dengan perhitungan Arus Balik ke Jakarta lebih dominan

Benar saja, start jam 11 siang melewati tol Cikampek terasa nyaman, karena kemacetan terjadi mulai di Karawang Timur, Karawang Barat sampai Cikarang Barat semuanya kearah Jakarta.

Memasuki Gerbang Tol Cikopo, saya bayar tol 13,500 dan menukar kartu Tol dengan Kartu menuju Palimanan.

Mulai Km.77 disambut jalanan Beton sepanjang hampir 40 km, disini saya hanya melajukan kendaraan sekitar 80-100km/jam saja. Kondisi jalanan sangat sepi, angin samping juga cukup besar, terlihat saat saya melepas kemudi, mobil agak ter banting ke kiri jalan. Bentuk mobil yang streamline memang membantu kecepatan mobil bisa dipacu sampai 160km/jam pada beberapa titik. Meskipun suara ban menjadi sangat bising di kabin. Marka jalan masih minim, tapi saya rasa cukup karena tidak banyak yang bisa diinformasikan sepanjang jalan, toh larangan seperti dilarang Parkir kecuali darurat lalu tanda kecepatan maksimal juga tidak banyak membantu, sebagai pengguna Jalan tol harusnya kita sudah sadar bahwa rambu-rambu tersebut tidak perlu dipasang tiap 1 kilometer.

Melewati Rest Area 86, dan 102 karena tidak ada yang saya lakukan, saya pun meneruskan perjalanan. Memasuki km.110 jalanan sudah aspal dan terasa masih halus dan mulus, suara ban pun terdengar sayup saja, kecepatan saya tambah menjadi rata-rata 120km/jam. Angin samping masih cukup besar karena memang kiri kanan adalah sawah dan lanskap yang tanpa bangunan atau pepohonan besar. Memasuki km 140an jalanan sedikit bumpy alias bergelombang, saya menurunkan kecepatan rata-rata menjadi 100km/jam saja. Sesekali melewati beberapa kendaraan yang memang berjalan agak pelan di sebelah kiri. Dan saya akui Jalan tol ini bukan untuk berlari kencang kecuali anda kebelet ke WC, atau dalam kondisi darurat (yang menurut orang Jakarta, darurat bisa sesuai kemauan mereka) . Toh beberapa kendaraan pelat “B” masih berkendara kencang melewati bahu jalan (maklum jalanan lengang menjadi barang mewah buat mereka – kasian ya)

Sampai di Kilometer 160, saya mengambil jalur paling kiri dan melajukan kendaraan di angka 80. sampai ke Rest Area 166. Saya ke WC lalu membeli minuman dan makanan kecil di Gerai Indomaret yang masih berjualan di bawah tenda. Beberapa pengunjung Rest Area menyempatkan diri Sholat dan nongkrong di pinggiran parkiran sambil (Nah!) buang sampah sisa makanan dan minuman. Padahal pengelola rest Area sudah melengkapi Rest Area ini dengan tempat sampah yang jumlahnya cukup banyak. Jadi sepanjang jalur parkir anda akan melihat sampah berserakan dimana-mana. Mayoritas mobil pelat “B” lagi-lagi.

Sekitar 30 menit saya berhenti disana, sambil tidur-tiduran sebentar, cuaca panas, suhu mencapai 33 derajat Celcius, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kota cirebon.

Sampai di Cirebon, saya mampir di Pasar Batik Trusmi membeli batik pesanan keluarga di rumah, lalu membeli makanan oleh-oleh juga. Kenapa dibeli saat baru sampai, bukan saat mau pulang? Alasan saya karena setelah sampai lokasi saya tidak dikejar-kejar waktu, sehingga bisa santai dan saat kembali pulang saya tidak lagi mampir kemana-mana.

O iya, di Bekasi saya isi BBM full Tank, 200ribu, dengan 100ribu Pertamax dan 100ribu Premium. Sempat saya lakukan servis sendiri, ganti oli, filter oli, cek radiator, minyak rem dan membersihkan rem depan belakang. Saya pikir akan isi bensin di Cirebon tapi tidak saya lakukan karena indikator menunjuk 3/4 .

Menginap 2 malam di GRAGE Hotel, merupakan kesalahan juga karena ternyata Hotelnya bersebelahan dengan Mall Grage, jadinya lengkap sudah setiap pagi dan malam saya punya pekerjaan baru, nongkrong minum Cafe Latte di Gerai Jco. Sempat berkeliling kota menggunakan becak saat selepas maghrib, berkeliling saja melihat kota Cirebon, kalau pakai mobil nggak akan terasa, jadinya harus pakai Becak saja.

Kembali ke Jakarta hari Sabtu siang, saya pun langsung melajukan kendaraan melewati tol Cipali. Seperti biasa melajukan kendaraan di angka 80-100km/jam, terasa nyaman karena tol belum ramai. Bahkan lampu indicator “ECO” pun konstan menyala. Tidak terasa km194, lalu tiba-tiba sudah km.170, km 160 nonstop tanpa berhenti. Start jam 1 siang saya tiba di Cikopo pada jam 14.30 alias 1,5 jam saja melaju di Tol Cipali. (Suatu saat saya ingin mencoba tol ini malam hari) dan saya pun memasuki Cikampek, sempat tersendat di Km.44 ada kecelakaan, tepat jam 15.30 saya sampai di rumah.

Kesimpulan :

  • Tidak ada yang aneh-aneh di Tol ini, angker? Nggak juga, biasa aja
  • Rambu-rambu yang belum lengkap…. kalau anda lewat jalan tol, tentu saja tidak akan banyak rambu diperlukan disana, sudah jelas anda akan dilarang parkir di bahu jalan, kecepatan maksimal 80-100km/jam.
  • Jalur lurus bikin ngantuk? Tentu saja…tapi ada rest area tiap 20km saya rasa cukup
  • Kecepatan ideal? 80-100km/jam saja, nggak usah sampai 200km/jam, lagian memang anda mau kemana?
  • Tol Cipali bahaya? Tergantung pengemudi… jika anda menyetir sambil masak mie, sambil bikin kopi supaya nggak ngantuk atau anda ngantuk jelas bahaya, nggak usah di Cipali, di jalanan kompleks saja bahaya kalau anda menyetir sambil melakukan hal diatas.
  • Intinya adalah, tol ini cukup aman. Jika anda mengatakan penerangan tol ini belum cukup, ya mudah saja, berangkatlah pada pagi hari atau jika terpaksa berjalan malam hari, siapkan penerangan kendaraan anda dengan baik.
  • Jalanan bumpy…hei nobody perfect. Menurut seorang pengelola akun pajak di twitter, anda bikin jalan sendiri saja….(ini jawaban orang nggak cerdas, mau menang sendiri) jalanan bumpy ya anda kurangi kecepatan, jalan biasa saja.
  • Masih ada yang lewat bahu jalan… biarin aja, antara mereka buru-buru, sombong, baru punya mobil, kebelet ke WC,nggak bisa baca, atau emang bukan yang punya mobil alias supir yang kebetulan dikasih pinjam mobil sama majikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s