The Best Of Me

a story…

Sebuah pesan blackberry messenger mampir di android saya pagi itu. “Bro, my father akan dioperasi di RS.mohon doanya”

Saya membayangkan kekhawatiran diwajah pengirim pesan tersebut. Seseorang yang sempat menghilang selama hampir 23 tahun lalu. Saya pun mencoba menghiburnya dengan pesan-pesan yang positif.

Saya pun terpaksa “berbohong” kalau salah satu keluarga saya pernah mengalami hal tersebut dan segalanya baik-baik saja. Padahal tidak ada satupun keluarga saya pernah mengalami operasi tersebut. Yang muncul di pikiran saya saat itu adalah, sudah cukup dia panik dan khawatir, tidak perlu ditambah lagi.

Menjelang hari operasi saya pun bisa merasakan kekhawatiran dirinya, sayang saya tidak bisa menemuinya atau sekedar memeluknya atau menenangkan dirinya. Saya hanya bisa mengirim sebuah pesan : “Everything will be OK, I promise he will be fine” dia sempat membalas “you promise?”

Ya…don’t make a promise that you cannot keep.

Yang dia tidak tahu, meskipun nyawa dan umur manusia itu di tangan Tuhannya…tapi semalaman saya berdoa dan meminta kepada Tuhan bahwa saya bersedia menukar diri saya dan beberapa project saya kepada Sang pencipta agar ayahnya tetap hidup, sehat dan bersamanya. Karena saya sudah berjanji padanya.

Saat saya melihat senyumnya lagi…saya tahu segalanya baik-baik saja.

“Because you aren’t just someone I loved back then. You were my best friend, my dearest love, and I can’t imagine giving that up again.”

“You might not understand, but I gave you the best of me, and after you left, nothing was ever the same.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s