Percayalah..jadi Sales itu BAGUS buat First Jobber

Sales itu pekerjaan yang paling saya hindari sejak saya lulus kuliah, dulu (waktu masih jaman kegelapan) saya selalu melamar pekerjaan itu nyari yang dibelakang meja atau admin, maklum image saya soal sales itu adalah Jalan-jalan bawa produk nawarin barang door to door lalu ada tulisan SALES DILARANG MASUK, laah nggak beda sama pemulung itu.

Tapi … nasib (kalo boleh dibilang takdir atau jalan hidup) menyatakan “anda harus jadi Sales” yah apa boleh buat deh, daripada nggak kerja, udah dikejar-kejar calon mertua juga pada saat itu, ultimatumnya “sekarang atau tidak sama sekali” ngeri kan?

Singkat kata, jadilah saya Sales Door to Door menawarkan produk alat tangki BBM sejak 2003, sebagai first jobber, masih lugu, unyu-unyu dan planga plongo kebayang kan tes mental selama jadi Sales…9 kali nawarin barang, 10 kali ditolak… alhasil baru 3 bulanan saya baru bisa jual barang, itu juga senangnya bukan main.

Sayapun banyak membaca kisah sukses nya JOE GIRRARD dan beberapa tokoh sales lain, yang memang diakui, jadi Sales nggak semudah bacotan mereka, toh sekarang buku-buku dan tulisan mengenai mereka saya buang semua ke tempat sampah, file di komputer tentang mereka pun saya hapus, bukan sombong tapi saya memilih menjalani cara saya sendiri dalam berjualan. Bukan sok jago juga… karena biar bagaimanapun mereka jauh lebih jago dan berpengalaman daripada saya, tapi LET ME CREATE MY OWN PATH.

Lanjut…. jadi Sales buat first jobber itu bagus banget dan harus dijalani, karena banyak orang sukses dulunya adalah seorang Sales…bener! first jobber yang tadinya nggak suka ngomong banyak, bisa jadi banyak ngomong. yang tadinya pemalu bisa jadi malu-maluin karena terkadang lebay kalo nawarin barang, yang penting laku… terus saja bertahun-tahun lakukan itu pasti bisa jadi ahli nantinya, hehehe.

Untuk First Jobber yang langsung dapat pekerjaan belakang meja ya nggak apa juga sih, nggak salah, yang penting dibayar kan asal jangan kebanyakan cari muka aja, nggak ada kualitas disana. Tapi yang sudah terlanjur jadi SALES, ayo…jadi sales yang handal, karena ada pepatah mengatakan (saya sih yang bikin) “didalam sebuah perusahaan, yang bisa kaya hanyalah pemilik perusahaan dan para SALES” maka dari itu… berusahalah menjadi KAYA dan jadilah SALESMAN yang KAYA.

 

Iklan

Kenapa sih spare parts OEM itu harus mahal?

Pertanyaan yang lazim adalah, kenapa sih spare parts OEM alias asli pabrikan itu lebih mahal dari parts imitasi atau sebutlah replacement parts?

Jawaban yang muncul kebanyakan adalah :

  1. Parts OEM harus bayar pajak ini itu
  2. Parts OEM dikemas lagi dengan kemasan khusus milik pemegang merk
  3. Parts OEM ada faktor gaji pegawai dan biaya distribusi dan lain-lain

semua diatas kalau ada multiple choice ya pasti BENAR semua, tapi tahukah anda bahwa ada beberapa faktor lain yang membuat produk OEM itu memang harus mahal dan pasti mahal… saya hanya akan bicara spare parts plastik seperti cover dashboard, cover AC, dashboard, cover audio dan lain sebagainya yang ber bahan plastik di mobil dan motor.

Kebetulan kami mendapat order pasang CCTV di sebuah pabrik di kawasan  Industri MM2100, pabrik ini ternyata pembuat parts OEM beberapa merk mobil dan motor di Indonesia, sebutlah Yamaha, Honda dan tentu saja Toyota…next nya hmmm, pabrikan mobil yang lagi menikmati penjualan mobil mereka saat ini, ya MITSUBISHI.

Saya cukup kaget ketika mendengar dan melihat banyaknya tumpukan parts plastik mirip Spoiler, SideSkirt, dashboard, cover AC dan cover dek milik sepeda motor yang teronggok di pojokan pabrik. Saya berpikir ini pasti produk yang sudah selesai karena bertumpuk, jumlahnya juga banyak dan kondisinya BARU.

Namun menurut salah satu pekerja disana barang-barang tersebut adalah “Barang Reject” dan ia pun menunjukkan salah satu barang yang di reject yaitu sebuah penutup dek milik Yamaha N MAX, “coba bapak lihat, bagian mana yang di reject” tanya si pekerja. Saya membolak balik produk tersebut dan tidak menemukan yang cacat.

Namun si pekerja menunjukkan sebuah tekstur yang agak miring letaknya, sementara yang lain lurus, tekstur yang satu ini agak melenceng. kalau tidak dilihat dengan dekat sekali nggak akan kelihatan, tapi jika di sinar pakai lampu neon barulah terlihat dan itulah yang di reject oleh pihak pemesan.

“2 milyar pak nilai barang-barang reject per bulan rata-rata, kebanyakan di scrap dan didaur ulang, tapi ada juga yang tidak boleh di daur ulang, terutama parts untuk mobil diatas harga 400juta, kalau mobil dibawah 400juta biasanya plastik yang reject di daur ulang” demikian penjelasan si pekerja.

Nah ,terkadang ada tonjolan kecil yang muncul di cover bawah dashboard, itupun pasti ditolak oleh pabrikan, ada satu sisi yang tergores, ada warna yang beda atau ada motif yang sedikit miring atau cacat cukup membuat pihak pabrikan menolak barang tersebut.

Anda bisa bayangkan, bagaimana perfect nya pihak OEM memperlakukan spare parts-nya, karena Konsumen adalah RAJA dan membayar kualitas. Padahal terkadang cacat tersebut dari mobil dibeli sampai dijual lagipun kadang si pemilik tidak memperhatikannya atau malah cacat tersebut sama sekali tidak mempengaruhi kekuatan parts tersebut dan tidak mempengaruhi kualitas mobil secara keseluruhan…tapi demi sebuah kesempurnaan dan kualitas tampaknya pihak OEM tidak mau main-main.

Saya jadi makin yakin dengan kualitas parts OEM, setara dengan harga yang dibayarkan, setara dengan tingkat stress yang dihasilkan demi mendapat produk yang sempurna atau mendekati sempurna.